TANAH LAUT, POSTKALIMANTAN.COM – Tradisi turun-temurun nelayan Tabanio kembali berlangsung. Seperti biasa, menjelang bulan Arab hidup 20 atau pertengahan bulan, mereka bersiap mengarungi lautan mencari tangkapan ikan.
Kali ini, perjalanan akan menuju perairan barat, timur, dan selatan, dengan bekal bahan pokok untuk bertahan selama dua minggu di tengah laut.
Dipimpin oleh juragan Abah Laila, lima anak buah kapal, Karman, Akbar, Amang Puji dan Amang Marhan, yang berasal dari Pembangunan Sungai Rasa, akan menghadapi ombak dengan peralatan seadanya.
Mereka bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga meneruskan warisan leluhur yang telah lama bergantung pada hasil laut.
Hj. Irau, pemilik kapal bersama sang suami Marzuki, mempercayakan sepenuhnya perjalanan ini kepada Abah Laila, Rabu (19/2/2025).
Hasil tangkapan nantinya akan dibawa ke pengumpul untuk dijual. Dalam pesannya, Hj. Irau menegaskan bahwa usaha ini harus terus berjalan meskipun pendapatan naik turun.
“Tidak ada kata menyerah. Cuaca tak menentu, hasil bisa berbeda-beda, tapi kapal selalu berlayar setiap dua minggu sekali. Ini sudah menjadi mata pencaharian kami,” ujarnya.
Saat ratusan kapal nelayan meninggalkan dermaga, suasana Tabanio pun berubah. Kampung yang biasanya ramai mendadak sepi, ditinggalkan para nelayan yang berangkat melaut.
Sebagian warga yang tetap tinggal adalah para petani yang terus menggarap ladang mereka.
Perjuangan nelayan Tabanio adalah cerminan ketangguhan mereka dalam menghadapi kerasnya kehidupan di laut.
Meski tantangan tak terduga selalu menghadang, semangat mereka untuk terus melaut tak pernah surut. (An)