Malam Salikuran, Malam 10 Hari Terakhir Ramadhan, Wujud Silaturahmi Dan Kebersamaan

Banjarmasin, POSKAL – Di sepuluh hari Ramadhan, Pondok Qur’an Ma’had Aali Hasan Taribeh, menggelar Acara Batamat Al-Qur’an dan  Santunan Anak Dhuafa/Yatim/Piatu, Tausiyah Ramadhan tema Keheningan Khusyuk Malam Lailatul Qadar, Buka Bersama dan Pawai Salikuran.

Malam sepuluh hari terakhir Ramadhan, yang disebut Malam Salikuran, satu budaya Banjar yang semakin hampir punah. Merasakan hal ini, dari Pondok Qur’an Ma’had Aali Hasan Taribeh mulai menghidupkannya dengan menggelar Malam Salikuran/ yang dimulai Selasa malam (12/4/2023) kemaren.

Sebelumnya, sejak Sore Selasa tersebut, Pondok Pesantren itu menggelar berbagai kegiatan, seperti Acara Batamat Al-Qur’an dan  Santunan Anak Dhuafa/ Yatim/ Piatu, Kemudian dilanjutkan dengan Tausiyah Ramadhan dengan tema Keheningan Khusyuk Malam Lailatul Qadar. Setelah itu,  ditutup dengan kegiatan Buka Bersama, dan dilaksanakan Pawai Salikuran, yang berkeliling komplek Matahari, Padat Karya, Sungai Andai.

Baca Juga !  Warga Banjarbaru Kasih Dukungan Gus Muhaimin Iskandar Maju Sebagai Calon Presiden 2024

Syarif Achyani Al Aydrus,  selaku Mudir Ma’had Qur’an Aali Hasan Taribeh mengatakan, lampu salikuran dibikin bersama-sama dengan anak-anak Dhuafa/Yatim/Piatu yang mendapat santunan oleh Pondok Qur’an Ma’had Aali Hasan Taribeh,  sebanyak 50 orang anak.

“Biasanya rangkaiannya di dalam adat istiadat Urang Banjar, itu rangkaiannya adalah, ada lampion, ada basuluh obor. Itu semata-mata hakekatnya kampung itu terang. Maka di sepuluh malam terakhir itu, hidupkanlah Ramadhan,” ungkap Syarif Achyani, Selasa sore (12/4/2023).

Malam sepuluh hari Ramadhan, ternyata juga disemarakkan oleh Umat Islam di daerah lain, yang bahkan menjadi kegiatan pariwisata. (yang terjadi di Sebuah Desa di Sulawesi Utara).

Pembuatan lampu lampion penerang komplek yang melibatkan anak-anak itu, oleh Pondok Qur’an Ma’had Aali Hasan Taribeh, sebagai bagian pengajaran untuk mereka akan tradisi tersebut, yang menyambut 10 hari akhir Ramadhan dengan menerangi tempat tinggal dalam Salikuran, yang sebenarnya dalam tradisi itu dilanjutkan dengan membaca kitab suci Al-Qur’an dan Suluh atau penerangan atau tausyiah keagamaan untuk masyarakat. jn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *