
Postkalimantan.com – Kotabaru. Musibah kebakaran hebat yang melanda beberapa wilayah pemukiman warga di Kecamatan Pulaulaut Timur pada beberapa bulan yang lalu, memicu perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Peristiwa tersebut menjadi momentum evaluasi besar bagi sistem penanggulangan bencana di tingkat kecamatan.
Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 19.00 WITA tersebut sempat membuat warga panik lantaran api dengan cepat melahap bangunan kayu. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil tergolong besar. Tim gabungan Damkar dan relawan baru berhasil menjinakkan api sepenuhnya pada pukul 21.00 WITA.
Pasca-kejadian, kritik muncul dari relawan di lapangan. Muhammad Ramadani (Dani), Wakil Ketua Emergency Pulau Laut (EPL) Cabang Pulau Laut Timur, mengeluhkan minimnya fasilitas pemadaman di wilayahnya yang memaksa relawan bekerja secara manual. Ia mendesak instansi terkait dan anggota DPRD setempat untuk segera merealisasikan pengadaan alat pemadam bagi tim relawan kecamatan.
Merespons aspirasi tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kotabaru, H. Eka Saprudin, AP., M.AP., memberikan penjelasan mendalam. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam penanganan kebakaran di Pulau Laut Timur adalah faktor geografis dan jarak tempuh.
“Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit bagi armada dari kota untuk mencapai lokasi di Pulau Laut Timur. Dengan waktu tersebut, risiko kerugian sangat tinggi karena api merembet cepat, apalagi jika ada angin kencang,” jelas Sekda.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Kotabaru telah menyiapkan strategi percepatan response time melalui tiga poin utama:
1. Pemberdayaan Relawan: Dinas Satpol PP dan Damkar telah diinstruksikan untuk melakukan verifikasi serta pembinaan intensif agar relawan lokal lebih tangguh dan terampil.
2. Fasilitasi Peralatan: Pemerintah berkomitmen memfasilitasi kebutuhan peralatan pemadam yang memadai bagi kelompok-kelompok relawan di kecamatan.
3. Aktivasi Posko dan Armada: Mengaktifkan kembali posko pemadam kebakaran di Pulau Laut Timur dengan menempatkan personel siaga serta unit armada yang standby 24 jam.
“Pembinaan ini penting agar tim di lapangan benar-benar mantap. Dengan adanya personel dan unit yang siaga di lokasi, penanganan awal bisa segera dilakukan tanpa harus menunggu armada dari pusat kota,” tegas Eka Saprudin.
Langkah strategis ini diharapkan dapat menjawab kekhawatiran para relawan dan masyarakat, sekaligus memastikan penanganan bencana di wilayah pesisir Kotabaru menjadi lebih cepat dan tepat sasaran di masa mendatang. (Rizky)





Leave a Reply