PELAIHARI, POSTKALIMANTAN.com – Gelombang antusiasme masyarakat menyelimuti penayangan film horor lokal “Kuyang” di Balairung Tuntung Pandang, Kabupaten Tanah Laut. Selama tiga hari pemutaran, sejak pembukaan hingga penutupan pada Minggu (12/4/2026), ribuan warga memadati lokasi, menciptakan atmosfer yang jarang terlihat untuk film produksi daerah.
Tak sekadar tontonan, “Kuyang” menjelma menjadi magnet hiburan sekaligus kebanggaan lokal. Lebih dari 2.000 penonton tercatat hadir, datang dari berbagai penjuru wilayah, bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan kisah horor yang kental dengan nuansa budaya tersebut.
Ketua DPC Gekrafs Tanah Laut, Aditya Agung Laksono, menyebut capaian ini sebagai sinyal kuat bahwa industri kreatif lokal memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing di level yang lebih tinggi.
“Ini bukti nyata bahwa karya anak daerah bisa diterima masyarakat luas. Harapannya, film seperti ‘Kuyang’ tidak hanya berhenti di daerah, tapi bisa menembus pasar provinsi, nasional, bahkan hingga box office,” ujarnya optimistis.
Tingginya animo penonton terlihat dari jadwal pemutaran yang berlangsung padat. Pada hari pertama, film ditayangkan dalam empat sesi, sementara hari kedua dan ketiga meningkat menjadi enam sesi maraton, dimulai sejak pukul 09.30 hingga 23.00 WITA.
Tak hanya berdampak pada sektor hiburan, kegiatan ini juga memberikan kontribusi nyata bagi daerah. Aditya menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjalankan kewajiban pajak, sehingga setiap tiket yang terjual turut menyumbang pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kami tidak sekadar menayangkan film. Setiap karcis yang dibeli penonton adalah bagian dari kontribusi untuk pembangunan daerah,” tegasnya.
Antusiasme penonton pun datang dari berbagai kalangan. Syarifah, warga Kintap, mengaku rela menempuh perjalanan cukup jauh demi menyaksikan film tersebut.
“Filmnya bagus, tegang dan seru. Worth it banget datang jauh-jauh,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Dina Hariyani, warga Angsau, yang menilai film “Kuyang” tidak hanya menyuguhkan ketegangan, tetapi juga sarat pesan moral, khususnya bagi generasi muda agar menjauhi praktik ilmu hitam.
Di balik kesuksesan ini, Aditya juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. Ia berharap momentum ini menjadi titik balik kebangkitan subsektor ekonomi kreatif lainnya di Bumi Tuntung Pandang.
“Semoga ini menjadi awal yang baik. Bukan hanya film, tapi seluruh subsektor ekonomi kreatif di daerah bisa ikut tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. (MN)












Leave a Reply