HMI Banjarmasin Wanti-wanti Dampak AI: Lapangan Kerja Menyempit, Hoaks Menguat

PELAIHARI, POSTKALIMANTAN.com — Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai membawa dampak signifikan bagi peradaban manusia. Di satu sisi menawarkan efisiensi dan kemudahan, namun di sisi lain menyimpan potensi ancaman serius apabila tidak diiringi dengan pengawasan dan regulasi yang memadai.

Sorotan tersebut disampaikan Muhammad Iqbal Maulana, kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin, dalam sebuah kegiatan diskusi yang digelar di Politeknik Tanah Laut, Pelaihari, Rabu (17/12/2025).

Iqbal menilai, salah satu dampak paling nyata dari masifnya penggunaan AI adalah penyusutan lapangan pekerjaan. Sejumlah peran yang sebelumnya dijalankan manusia kini mulai tergantikan oleh mesin dan sistem otomatis, terutama di sektor-sektor berbasis teknologi.

“Jika tidak diantisipasi dengan peningkatan keterampilan dan literasi digital, kondisi ini berpotensi meningkatkan angka pengangguran, khususnya bagi tenaga kerja yang belum siap beradaptasi,” ujarnya.

Tak hanya persoalan ekonomi, Iqbal juga menyoroti dampak ketergantungan berlebihan terhadap AI yang dinilai dapat menggerus kemampuan berpikir kritis dan kreativitas manusia. Menurutnya, budaya instan yang ditawarkan teknologi berisiko melemahkan daya analisis, terutama di kalangan generasi muda.

“Ketika manusia terlalu mengandalkan kecerdasan buatan, maka proses berpikir, kreativitas, dan inovasi perlahan bisa tumpul,” tegasnya.

Lebih jauh, Iqbal menekankan bahwa isu etika dan privasi menjadi tantangan serius dalam pemanfaatan AI. Kemampuan teknologi ini mengolah dan menganalisis data dalam skala besar dinilai rawan disalahgunakan, mulai dari pelanggaran privasi, pengawasan berlebihan, hingga manipulasi informasi publik.

“Penggunaan AI tanpa regulasi yang jelas berpotensi memperparah penyebaran hoaks dan disinformasi. Ini ancaman nyata bagi demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.

Ia pun menegaskan pentingnya peran negara, institusi pendidikan, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama memastikan perkembangan AI tetap berada dalam koridor etis dan berkeadilan.

“Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan literasi digital, pengawasan etis, serta regulasi yang tegas. AI harus menjadi alat untuk memanusiakan manusia, bukan sebaliknya,” pungkas Iqbal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *