BARITO KUALA, POSTKALIMANTAN.com – Meski sempat diguyur hujan, semangat kebersamaan dan kekhusyukan tetap terasa dalam rangkaian kegiatan Batola Bersholawat yang digelar di kawasan bawah Jembatan Barito, Kamis malam (18/12/2025). Kegiatan ini dihadiri Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman, Bupati Barito Kuala, DR. H. Bahrul Ilmi, S.H., M.H, Wabup Batola, Herman Susilo serta jajaran Laung Kuning Banjar (LKB) Kabupaten Barito Kuala.
Batola Bersholawat merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala ke-66, yang puncak peringatannya jatuh setiap tanggal 4 Januari. Momentum ini menjadi refleksi perjalanan Batola sekaligus ikhtiar spiritual untuk menyambut usia daerah yang kian matang.
Hujan yang turun sejak sore tidak menyurutkan langkah para tokoh dan masyarakat Banua. Justru, suasana tersebut menambah nuansa religius menjelang puncak Batola Bersholawat yang digelar malam Jumat, dengan menghadirkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.
Bupati Batola: Hari Jadi ke-66 Momentum Introspeksi dan Doa Bersama
Bupati Barito Kuala Bahrul Ilmi menegaskan bahwa Batola Bersholawat bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari rangkaian refleksi Hari Jadi Batola ke-66.
“Setiap 4 Januari adalah momentum kita mengenang perjalanan panjang Kabupaten Barito Kuala. Batola Bersholawat menjadi ruang doa bersama agar daerah ini senantiasa diberi keberkahan, kemajuan, dan keselamatan,” kata Bahrul Ilmi.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Batola dan Banua untuk meramaikan Batola Bersholawat.
“Mari kita jadikan peringatan Hari Jadi Batola ke-66 ini sebagai momentum memperkuat iman, persatuan, dan kecintaan terhadap daerah,” tambahnya.

LKB Batola: Jaga Iman, Rawat Identitas Banjar
Sementara itu, Ketua Laung Kuning Banjar, Dewan Pimpinan Cabang (LKB-DPC) Batola, Fahrul Razi sapaan akrab Abang Panji, menegaskan bahwa kehadiran LKB dalam Batola Bersholawat adalah bagian dari tanggung jawab moral menjaga nilai Islam dan jati diri Banjar.
“Hari jadi daerah bukan hanya dirayakan dengan seremonial, tetapi juga dengan doa dan pelestarian identitas. Sholawat dan budaya Banjar harus berjalan beriringan,” tegas Fahrul Razi.
Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak malu mengenakan laung kuning.
“Urang lain bangga dengan identitas adatnya. Jangan sampai kita supan memakai laung kuning, padahal itu ampun urang Banjar. Kita hormati budaya orang lain, tapi kita wajib menjaga budaya sendiri,” ujarnya.

LKB PAC KUTABAMARA: Syukur, Acara Berjalan Lancar dan Penuh Keberkahan
Ketua Laung Kuning Banjar (LKB) PAC KUTABAMARA, Bima Putra Pratama, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran rangkaian kegiatan Batola Bersholawat yang berlangsung tertib dan khidmat, meski diguyur hujan.
Menurutnya, hujan yang turun justru menjadi tanda keberkahan dari Allah SWT atas lantunan sholawat dan doa yang dipanjatkan bersama.
“Alhamdulillah, walaupun sempat hujan turun, acara berjalan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan. Ini pertanda Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua yang bersholawat dan bersatu dalam kebaikan,” ujar Bima Putra Pratama dengan penuh ketenangan.
Ia menilai Batola Bersholawat bukan sekadar agenda seremonial dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala ke-66, melainkan ruang spiritual untuk menundukkan hati, memperkuat iman, dan meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Sholawat adalah jalan melembutkan hati. Ketika sholawat digemakan bersama, insyaAllah daerah kita dijauhkan dari perpecahan dan diberi keberkahan. Inilah makna sejati peringatan hari jadi, yakni bermuhasabah dan berdoa agar Batola semakin maju dan diridai Allah SWT,” tuturnya.
Bima juga mengapresiasi kekompakan seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, hingga masyarakat Banua yang hadir dengan tertib dan penuh adab.
“Kami di LKB PAC KUTABAMARA sangat mengapresiasi kebersamaan ini. Semoga apa yang kita niatkan menjadi amal jariyah, dan semoga Batola di usia ke-66 senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT,” pungkasnya. (Pk)












Leave a Reply