BANJARMASIN, POSTKALIMANTAN.com – Sejarah Banjar diyakini memiliki akar peradaban yang panjang dan diwariskan secara turun-temurun, bukan hasil karangan atau rekonstruksi sepihak. Pandangan ini disampaikan oleh P.S. Muhammad Zainuddin, yang menegaskan bahwa identitas dan sejarah Urang Banua memiliki landasan keyakinan, tradisi lisan, serta narasi peradaban tua yang telah hidup sejak masa awal umat manusia.
Menurutnya, peradaban Banjar pertama kali ditemukan pada masa perjalanan Iskandar Dzulkarnain bersama Nabi Khidir, ketika Nabi Khidir mencari air hayat atau air kehidupan. Lokasi tersebut diyakini berada di dua puncak gunung, yakni Puncak Gunung Kariwawan dan Puncak Gunung Lapak Pati, yang kini disebut berada di kawasan Gunung Bundang atau Gunung Gundang, wilayah pedalaman Purukcahu, Kalimantan Tengah.
“Di sanalah ditemukan sebuah komunitas yang dikenal sebagai Bani Al-Jahiriah atau Bani Al-Jar, yang kemudian disebut Banjar,” ujar Zainuddin dalam keterangannya.
Ia menekankan, Bani Al-Jar sejak awal bukanlah penganut animisme, penyembah berhala, benda, maupun makhluk. Mereka diyakini menganut tauhid Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Muhammad SAW, sehingga menurut pandangan ini, Urang Banjar secara turun-temurun adalah kaum hanif dan mukmin.
“Karena itu, Urang Banua atau Urang Banjar bukan penganut kepercayaan animisme maupun Kaharingan, melainkan telah berada dalam garis tauhid sejak awal sejarahnya,” tegasnya.
Zainuddin menjelaskan, seiring perjalanan zaman dan pasca peristiwa keluarnya Ya’juj dan Ma’juj oleh Iskandar Dzulkarnain, Bani Al-Jar hidup dalam peradaban yang damai. Sebagian dari mereka kemudian melakukan kafilah atau perjalanan panjang, berbaur dengan berbagai bangsa, membangun jejaring perdagangan, serta menjalin hubungan dengan penguasa-penguasa setempat di berbagai wilayah.
“Bani Al-Jar dikenal mudah beradaptasi, dipercaya penguasa negeri, bahkan terlibat dalam penyelesaian persoalan sosial dan pemerintahan di wilayah perantauan,” jelasnya.
Dalam narasi ini pula, disebutkan adanya Banjar Arkais, yakni Bubuhan Asli Bukit yang diyakini sebagai keturunan Arya Tadung Wani, tokoh yang dikenal sebagai dzuriat Datu Muning. Wilayah pengaruhnya meliputi Pegunungan Meratus, Intingan, hingga Dayuhan, yang disebut sebagai bagian dari sejarah awal peradaban Banjar.
Lebih jauh, Zainuddin menyebut komunitas kafilah Bani Zhahiriah atau Bani Al-Jar pernah menjelajah hingga Gujarat, Jazirah Arab, Afrika Utara, Sam, dan Maghribi. Dalam perjalanannya, kafilah-kafilah tersebut diyakini turut melahirkan peradaban-peradaban baru dan menjalin ikatan genealogis melalui perkawinan di wilayah Melayu, Saba, hingga Kalimantan atau Borneo.
“Narasi ini bukan sekadar cerita, tetapi keyakinan sejarah yang hidup di tengah masyarakat Banjar dan diwariskan lintas generasi,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa sejarah Banjar dalam perspektif ini kerap tidak tercatat secara luas dalam literatur akademik modern, khususnya oleh sejarawan non-Muslim.
“Karena sejarah Banjar identik dengan tauhid dan Islam sejak awal, banyak yang enggan menuliskannya sebagai bagian penting dari sejarah dunia,” pungkasnya.
Penulis: P.S. Muhammad Zainuddin












Leave a Reply